BANDA ACEH (3/11/2025) – Tim Riset Madrasah Aliyah Darul Ulum YPUI Banda Aceh telah menuntaskan tahap presentasi hasil penelitian Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Bidang Riset 2025 pada Minggu (2/11). Dua siswi finalis, Kamila Althafunnisa Khairani dan Hairani, mempresentasikan temuan mendalam dari riset mereka berjudul: "Analisis Pembangunan Pasar di Banda Aceh pada Zona Merah Tsunami Tanpa Escape Building."
Presentasi di semifinal ini fokus pada dimensi sosial dan kebijakan. Tim ini menyajikan temuan mengenai persepsi masyarakat yang seringkali kembali ke zona bahaya (pesisir) pasca-tsunami, didorong oleh kebutuhan hidup dan faktor ekonomi yang mendesak. Hal ini membuat mereka sangat rentan terhadap risiko bencana. Riset ini mengkaji bahwa kesadaran mitigasi bencana pada level masyarakat mulai mengendur seiring waktu.
Selain itu, presentasi ini juga mengkaji penyebab non-infrastruktur di balik minimnya escape building di fasilitas publik. Menurut temuan mereka, akar masalah ini bukan sekadar biaya konstruksi, melainkan disebabkan oleh kesenjangan perencanaan mitigasi dan koordinasi antar-pemangku kepentingan. Ditemukan bahwa perencanaan pembangunan seringkali didominasi oleh pertimbangan ekonomi dan fungsionalitas harian (pasar), sementara pertimbangan keselamatan vertikal menjadi terpinggirkan, diperparah oleh minimnya pengawasan implementasi peraturan daerah yang mengatur zonasi dan standar bangunan tahan bencana.
Pembimbing Tim Riset, Rosalia, M.Pd., menjelaskan riset menemukan bahwa masyarakat dan pemerintah sama-sama mengalami secara kolektif sudah mulai lupa dampak dari bencana Tsunami, kami menawarkan perubahan paradigma. Pembangunan harus mengedepankan filosofi Hifdz al-Nafs (menjaga jiwa) di atas keuntungan komersial," jelasnya.
Kepala MA Darul Ulum YPUI, Mariani, S.Ag., M.A., menuturkan kebanggaannya, menekankan bahwa riset ini adalah kontribusi ilmiah madrasah terhadap ketahanan Aceh.
Dukungan juga disampaikan oleh Samsul Bahri, Ketua Bidang Pendidikan YPUI Banda Aceh. "Riset ini menunjukkan bahwa pelajar madrasah mampu menyentuh akar masalah kebijakan publik.
Kami berharap temuan ini mendorong pemerintah daerah untuk menjahit kembali benang merah antara regulasi dan pembangunan di lapangan," pungkasnya. Tim kini menantikan hasil pengumuman yang dijadwalkan pada 5 November 2025.
